Matahari mulai condong ke barat ketika Lynx, Ling Mei, dan Lala memasuki gerbang Kota Zhurong. Suasana ramai pasar dipenuhi pedagang dan pembeli yang bercengkerama dengan penuh semangat. Aroma rempah-rempah dan makanan menggoda indra penciuman mereka, menguar dari warung-warung yang berjejer rapi sepanjang jalan. Semakin jauh mereka melangkah memasuki kota, berbagai toko penjual senjata tampak bertebaran, memamerkan bilah pedang yang berkilauan dan tombak dengan ujung berlapis perak.

Setibanya di kediaman mereka, Lynx menghentikan langkahnya. Matanya menyipit tajam, merasakan ada sesuatu yang janggal. Di ruangan depan, Jelita, Kael, Karim, dan Narendra tampak berkumpul, tapi tak satu pun dari mereka menyadari kedatangannya. Wajah-wajah mereka muram, diliputi kesedihan dan kekhawatiran yang tebal.

"Hmm... hmm... Apa kalian sekarang begitu tidak waspadanya sampai tidak menyadari keberadaanku?" kata Lynx sambil tersenyum, nada bicaranya menggoda namun penuh kehangatan.

Mendengar suara Lynx, keempatnya tersentak serentak. Mata mereka membelalak, dan wajah yang tadinya muram kini dipenuhi kelegaan dan kebahagiaan. Namun, begitu mata mereka tertuju pada Ling Mei, ekspresi keterkejutan kembali menguasai wajah mereka.

"Bukankah dia Ling Mei, murid Sekte Api Langit? Kenapa dia ada di sini?" pikir mereka serempak, rasa penasaran menyelinap di benak masing-masing.

Jelita mengernyit sebelum melangkah mendekat, matanya menyipit memperhatikan Ling Mei dengan seksama. "Nona Ling Mei, kita bertemu lagi. Apakah kau masih mengingatku? Aku Yun Qing, dan ini teman-temanku, Narendra, Kael, dan Karim."

Ling Mei hanya mengangguk dingin, tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dia ingin memberi kejutan dengan bersikap seolah dia adalah Ling Mei. Sikapnya dibuat tetap sama—angkuh dan penuh wibawa, membuat suasana menjadi kian tegang.

Narendra menggerutu, nada suaranya ketus. "Jangan mentang-mentang mirip wajah Leena, lalu datang ke sini dengan sikap arogan seperti itu."

Jelita segera menyikut lengannya, mencoba meredam ketegangan. "Nona Ling Mei memang orangnya seperti itu. Jangan diambil hati," katanya dengan nada lembut, meski matanya tetap waspada.

Narendra beralih menatap Lynx dan Lala dengan penuh harap. "Bagaimana hasil perjalanan kalian? Apakah pembunuh ketua sekte berhasil kalian temukan?"

Lala menggeleng pelan, wajahnya menunjukkan kelelahan. "Banyak hal terjadi, tapi yang pasti Lynx tidak lagi dituduh sebagai pembunuhnya."

Narendra menghela napas panjang, namun kerutan di dahinya belum sepenuhnya hilang. "Lalu kenapa kalian membawanya ke sini? Apakah kalian lupa kalau tempat ini tidak bisa sembarangan mengundang orang luar?"

Leena, yang masih mengenakan seragam khas Sekte Api Langit, melangkah maju dengan senyum menggoda di wajahnya. "Narendra, lama tidak bertemu, tapi sikapmu tetap saja menyebalkan. Tidak selucu Kanha. Dan kamu, Jelita, semakin cantik saja."

Semua terdiam, kebingungan tergambar jelas di wajah mereka. Narendra mengerutkan dahi, mencoba mencerna kata-kata itu. "Kanha? Jelita? Bagaimana kamu tahu..."

Jelita menggigit bibir bawahnya, keraguan menyelimuti wajahnya. "Apa... apa kamu Leena?"

Lala tertawa lepas, seolah menikmati kebingungan mereka. "Tentu saja ini Leena kita! Apakah kalian tidak mengenalinya?" ujarnya dengan nada puas, meski dirinya sendiri belum lama mengetahui kebenaran itu.

Narendra dan Karim, yang awalnya menahan emosi, kini tersenyum lebar. Air mata haru mengalir di pipi mereka, sementara Jelita tak mampu menahan dirinya lagi. Ia menerjang Leena dalam pelukan hangat, penuh kerinduan.

"Leena! Aku sangat merindukanmu!" seru Jelita, suaranya bergetar oleh haru.

Leena membalas pelukan itu dengan erat, matanya mengerjap menahan air mata. Kelegaan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu. Lala turut mendekat dan memeluk mereka berdua, menikmati momen yang begitu dirindukan itu.

Lynx masih dapat menangkap guratan kekhawatiran di wajah Kael, meskipun pria itu mencoba menyembunyikannya di balik senyum tipis. Senyum yang dingin dan penuh kepedihan, mengaburkan perasaan yang sebenarnya.

"Kael, ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Lynx dengan nada hati-hati, matanya mengamati setiap perubahan di wajah temannya.

Kael tersenyum hambar, sebuah senyum yang tak sampai ke mata. "Tidak, hanya sedikit lelah. Kehadiran kalian membawa kebahagiaan yang sudah lama hilang," jawabnya, menghindari tatapan Lynx. Dia tidak ingin kebahagian karena pertemuan mereka rusak.

Kael berpikir, meski mengkhawatirkan, tetapi kondisi Arkha tidak dalam keadaan bahaya.

Namun, Lynx tidak mudah dibujuk. Pandangannya tetap tajam menelisik. "Kael, di mana Arkha sekarang? Kenapa aku tidak melihatnya?"

Seketika, suasana berubah. Wajah-wajah yang tadi dihiasi senyum kini dipenuhi kecemasan. Jelita perlahan melepaskan pelukannya pada Leena, menggigit bibir bawahnya dengan cemas. Narendra menghela napas panjang, nada suaranya berat ketika akhirnya angkat bicara. "Kami akan membawamu melihatnya agar kamu bisa melihatnya sendiri."

Lynx, Leena dan Lala merasa cemas dengan nada bicara Narendra dan yang lainnya mengenai Arkha.

Narendra memimpin mereka melewati lorong panjang menuju sebuah kamar luas dengan penerangan remang. Aroma pahit obat-obatan dan asap dupa memenuhi udara, menggantung berat dalam ruangan. Di tengah kamar, Arkha terbaring di atas ranjang kayu dengan tubuh pucat. Matanya terpejam rapat, napasnya teratur namun tubuhnya terlihat lemah karena beberapa hari tidak sadarkan diri.

"Apa yang terjadi pada Arkha?" tanya Lynx dengan nada cemas.

Dengan cepat, Lynx mengerahkan kekuatan dalam tubuhnya, mengalirkan Qi untuk memeriksa kondisi Arkha. Energi murni mengalir, menelusuri jalur meridian di tubuh Arkha. Namun, anehnya tidak ada luka dalam atau gangguan vital yang terdeteksi. Keadaan tubuhnya tampak normal, tetapi jiwanya seperti terjebak dalam kegelapan yang tidak kasat mata.

Lala memandang Kael dengan sorot mata tajam. "Kael, katakan yang sejujurnya. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu."

Kael terdiam sesaat, menarik napas panjang sebelum menatap Lynx dan Lala dengan ekspresi tegang. "Lynx, seseorang dari dunia kami ada di sini. Entah bagaimana caranya dia menemukan kita dan bisa berada di tempat ini. Aku merasa dia mengawasi kita."

Mata Leena menyipit curiga. "Seseorang dari dunia kalian? Siapa? Apakah kau yakin tidak salah lihat?"

Kael mengangguk pelan. "Awalnya aku juga mengira begitu, tapi setelah melihat benda yang melukai Arkha, sebuah senjata khas yang sengaja di tinggalkan, aku yakin dia adalah orang dari dunia kami dan berada di sini."

Dengan gerakan tenang namun penuh beban, Kael merogoh pakaiannya dan mengeluarkan sebuah pisau kecil seukuran kuku dengan bilah tipis. Pisau itu terukir motif bunga mawar yang rumit, menciptakan kesan indah namun mematikan. Cahaya redup dari lentera berkilauan di atas permukaan logamnya.

"Dia selalu meninggalkan tanda ini pada targetnya, sebuah pesan penuh kesombongan," lanjut Kael, matanya memancarkan kemarahan yang terpendam. "Saat dia memberi tanda pengenal ini, itu artinya dia yakin tidak akan gagal."

Lynx mengambil dan mengamati pisau itu dengan seksama, sebuah motif khusus yang di design memiliki ciri khas tersendiri, agar seseorang yang melihat langsung mengenali pemiliknya. Setelah mengamati, Lynx menenukan pisau kecil tersebut tidak memiliki racun dan tidak bisa membunuh dengan cara biasa.

"Jadi dia yang melukai Arkha? Siapa dia, Kael? Apa aku mengenalnya?" tanya Lala dengan mata menyala penuh amarah. Suaranya bergetar, tersirat kemarahan dan kecurigaan. Sebagai seseorang yang berasal dari dimensi yang sama dengan Kael, ia tahu kedatangan sosok itu pasti membawa bahaya. Nalurinya mengingatkan, mungkin dirinya yang menjadi target karena rahasia yang disembunyikannya.

Kael menghela napas dalam, lalu menggeleng pelan. "Kamu tidak mengenalnya, Lala. Dia adalah salah satu pembunuh bayaran wanita terhebat dan disegani karena kekejamannya. Yang membuatnya benar-benar mengerikan adalah kenyataan bahwa dia seorang Mutan."

Narendra yang sejak tadi mendengarkan dengan dahi berkerut akhirnya angkat suara. "Mutan? Apa itu?"

Lala menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan, nada suaranya terkesan getir. "Mutan adalah manusia yang mengalami perubahan tak alami, makhluk yang bermutasi seperti binatang di pulau tempat kita sebelumnya, juga seperti suku Monrest. Tapi mereka jauh lebih berbahaya, mereka memiliki kekuatan aneh, seperti mengendalikan petir, melesat secepat angin, atau berubah menjadi pasir dan kabut. Kekuatan yang merusak keseimbangan alam."

"Bukankah berarti dunia kalian sudah dikuasai para mutan jika mereka sekuat itu?" Karim bertanya dengan nada ingin tahu, matanya menyipit tajam.

